Sabtu, 07 November 2015

SEBUAH ASA



 SEBUAH ASA


Orang lain tak pernah merasa, mereka hanya mampu menggunjing, memusuhi, berspekulasi macam-macam tanpa tahu yang kebenarannya

“Widia menyandang predikat cumlaude dengan IP 4,00 dari prodi akuntansi silahkan naik ke atas panggung”
Tak kusangka, angin derita, bencana  beban kini sudahlah lenyap, berganti dengan sorak sorai kebahagiaan, siapapun aku sekarang tak mampu mengubah masa laluku, aku bukanlah orang yang dengan begitu saja melupakan masa lalu, karena hanya dengan itu lah kita bisa memiliki pembanding untuk hidup yang lebih baik
Ku pegang piala berwarna kuning keemasan itu dengan jantung berdebar kencang, pelupuk mata ku sudah tak mampu menahan bulir bulir bening air yang di sebut dengan air mata ini
Ku lihat ayah ibuku, tampak bangga, mereka mendampingiku menerima hadiah
Pikiranku melayang jauh kembali ke masa laluku
“ibu.. bagaimana ini? Uang sekolahku sudah menunggak 5 bulan”
Ibu hanya mendongak memandang ke arahku tanpa kata, terlihat kecemasan dari raut wajahnya sejenak ia lalu kembali  memotong sayuran
“tak apa-apa ibu, mungkin aku harus berbicara dengan guruku lagi” lanjutku
Dengan langkah perlahan ku capai daun pintu kamar, ku buka perlahan sambil mengamati satu persatu barang di kamar
kasur yang tipis, lantai yang belum di keramik, buku-buku hanya buku tulis sebanyak 5 buah, dan kertas yang tertata dengan rapi
ku raih buku kecil berwarna merah muda, semua kegiatan sudah ku tulis di sana bahkan nanti malam pun aku sudah tau akan melakukan apa, hidupku sangat-sangat tertata, meskipun aku hanya orang yang tak berada, tetapi aku memiliki semangat belajar daripada temanku yang lain
Allahu akbar.. Allahu Akbar..
Panggilan Allah sudah tiba untuk sholat, dan ku segerakan untuk mengambil air wudhu. Aku menunggu saat-saat seperti ini, dapat bermesra-mesraan dengan sang pencipta hidup, tempatku berkeluh kesah hanya kepada-Nya
Ku tengadahkan tangan ini
“Ya Allah.. aku mohon, jangan Engkau timpakan segala sesuatu yang tidak dapat orang tua hamba lakukan, tolong berilah kami semua jalan keluar untuk masalah kami, karena hanya kepada Engkaulah sesuangguhnya kami berkeluh-kesah dan memohon pertolongan” tanpa ku sadari aku menangis
Hingga akhirnya munajatku telah selesai ku lontarkan.
Dari luar ibu mengetuk pintu, meminta untuk masuk. Dengan segera aku membukakannya pintu
“apa ibu mengganggumu?”
“tidak ibu, ada apa?”
“apa kau menangis? Apa ibu yang membuatmu menangis?”
“tidak ibu, aku tidak apa-apa percayalah..”
Ku genggam jari jemari ibu, ku tempelkan pada pipiku, kasar.. terdapat luka derita di sepanjang garis-garis telapaknya, mengingat ibuku adalah seorang buruh cuci.
“aku tidak apa-apa percayalah”
“mengenai pembayaran SPPmu..” kata-kata ibu tertahan
“aku tidak apa-apa, aku yakin anakmu ini mampu mengatasinya ibu.. aku akan meminta kompensasi dari pihak sekolah”
Ibu memandangku cemas, sejujurnya aku benci dengan pandangan seperti itu, ini dapat nmembuatku menjadi spot jantung mendadak
Lalu ibu pun keluar dari kamarku
Selang beberapa menit ku putuskan untuk mecari udara segar di luar rumah, untu menenangkan pikiranku, terlihat dari jauh ada tukang sayur di kelilingi oleh ibu-ibu
“ibu widia.. kasihan sekali berhutang kesana kemari..” ucap salah seorang ibu-ibu
“ah.. aku tidak ingin meminjamkan uang kepadanya kau tahu sendiri kan, uang bu maya saja sampai sekarang tidak kembali”
“tetapi bu.. kasihan juga, pak rohmat hanya bekerja sebagai tukang batu”
“ah tetap saja bu”
Bagaikan sebuah teriris sembilu, hati ini sangat perih mendengar percakapan ketiga ibu-ibu tadi tentang ibu. Aku sangat sakit hati dengan mereka, ingin rasanya mengucir satu-persatu mulut mereka
Bukit di dekat rumah menjadi salah satu tempat pelarian, karena hanya dari sana cakrawala dapat ku lihat, membayangkan apa yang akan terjadi pada sang surya di hidupku berikutnya, bagaimana mungkin ibu dapat mengatasi rasa sakitnya?
Bagaimana mungkin?
Kadang ku berpikir, Tuhan memang sangat tidak adil, orang sebaik ibu, mendapatkan cobaan yang sangat besar.
Tetapi aku yakin, ibu adalah orang yang tegar, ibuku tak pernah sedikitpun mengeluh
Aku tetapi berdiri di uncak bukit dengan hati berdebar, mungkinkah aku sanggup memandang wajah ibu? Mungkinkah aku sanggup melihat ibu atas kejadian ini?
Bahkan aku tak memiliki muka untuk bertemu dengannya
Tetapi aku mendapat jawaban atas semua itu, aku harus menemui ibu dan meminta maaf atas segala kesalahanku pada ibu
Dengan langkah gontai, aku berjalan menyusuri jalan setapak. Perlahan namun pasti ku ayunkan kedua langkahku dan terlihat ibu dengan wajah cemas memandang ke arahku.
“kau dari mana widia?” Tanya ibu
“maafkan aku ibu, aku baru saja mencari udara segar”
“apa karena ibu? Kau marah?”
“tidak ibu..” jawabku
“maafkan ibu, ibu tidak bisa memenuhi segala yang kau butuhkan” ibu terisak dalam
“ibu.. ibu tidak perlu meminta maaf, justru aku, aku lah yang harusnya meminta maaf”
“tapi saying.. kau jadi menderita karena ibu”
Ku raih jari ibu, ku genggam erat dalam dekapan tanganku, buliran air mata ibu tampak membasahi kedua pipinya
“cukup dengan aku menjadi anak dari seorang wanita yang hebat saja aku sudah sangat bahagia”
Ibu menangis, kemudian ibu memelukku erat.. sangat erat.. ku rasakan hangat, tubuhnya yang sudah tak segemuk dulu..
Kulitnya yang tak sekencang dulu..
Wajahnya yang tak seceria dulu..
“aku bahagia ibu.. aku sangat bahagia..” lanjutku
“biar aku yang akan mengurus pembayaran sekolah bu, aku akan mencari beasiswa, ibu tak perlu khawatir”
Selama 2 tahun aku berjuang.. berdampingan dengan ibu dan ayah..
Mereka telah mendorongku sampai sejauh ini hingga aku sekarang mampu menyandang predikat yang tak semua orang dapat
Tuhan itu adil. Hanya Ia memiliki cara yang berbeda untuk menyampaikannya