SEBUAH ASA
Orang lain tak pernah
merasa, mereka hanya mampu menggunjing, memusuhi, berspekulasi macam-macam
tanpa tahu yang kebenarannya
“Widia menyandang predikat cumlaude dengan IP 4,00 dari prodi akuntansi silahkan naik ke atas panggung”
“Widia menyandang predikat cumlaude dengan IP 4,00 dari prodi akuntansi silahkan naik ke atas panggung”
Tak kusangka, angin
derita, bencana beban kini sudahlah
lenyap, berganti dengan sorak sorai kebahagiaan, siapapun aku sekarang tak
mampu mengubah masa laluku, aku bukanlah orang yang dengan begitu saja
melupakan masa lalu, karena hanya dengan itu lah kita bisa memiliki pembanding
untuk hidup yang lebih baik
Ku pegang piala
berwarna kuning keemasan itu dengan jantung berdebar kencang, pelupuk mata ku
sudah tak mampu menahan bulir bulir bening air yang di sebut dengan air mata
ini
Ku lihat ayah ibuku,
tampak bangga, mereka mendampingiku menerima hadiah
Pikiranku melayang jauh
kembali ke masa laluku
“ibu.. bagaimana ini?
Uang sekolahku sudah menunggak 5 bulan”
Ibu hanya mendongak
memandang ke arahku tanpa kata, terlihat kecemasan dari raut wajahnya sejenak
ia lalu kembali memotong sayuran
“tak apa-apa ibu,
mungkin aku harus berbicara dengan guruku lagi” lanjutku
Dengan langkah perlahan
ku capai daun pintu kamar, ku buka perlahan sambil mengamati satu persatu
barang di kamar
kasur yang tipis,
lantai yang belum di keramik, buku-buku hanya buku tulis sebanyak 5 buah, dan
kertas yang tertata dengan rapi
ku raih buku kecil
berwarna merah muda, semua kegiatan sudah ku tulis di sana bahkan nanti malam
pun aku sudah tau akan melakukan apa, hidupku sangat-sangat tertata, meskipun
aku hanya orang yang tak berada, tetapi aku memiliki semangat belajar daripada
temanku yang lain
Allahu akbar.. Allahu
Akbar..
Panggilan Allah sudah
tiba untuk sholat, dan ku segerakan untuk mengambil air wudhu. Aku menunggu
saat-saat seperti ini, dapat bermesra-mesraan dengan sang pencipta hidup,
tempatku berkeluh kesah hanya kepada-Nya
Ku tengadahkan tangan
ini
“Ya Allah.. aku mohon,
jangan Engkau timpakan segala sesuatu yang tidak dapat orang tua hamba lakukan,
tolong berilah kami semua jalan keluar untuk masalah kami, karena hanya kepada
Engkaulah sesuangguhnya kami berkeluh-kesah dan memohon pertolongan” tanpa ku
sadari aku menangis
Hingga akhirnya
munajatku telah selesai ku lontarkan.
Dari luar ibu mengetuk
pintu, meminta untuk masuk. Dengan segera aku membukakannya pintu
“apa ibu mengganggumu?”
“tidak ibu, ada apa?”
“apa kau menangis? Apa
ibu yang membuatmu menangis?”
“tidak ibu, aku tidak
apa-apa percayalah..”
Ku genggam jari jemari
ibu, ku tempelkan pada pipiku, kasar.. terdapat luka derita di sepanjang
garis-garis telapaknya, mengingat ibuku adalah seorang buruh cuci.
“aku tidak apa-apa
percayalah”
“mengenai pembayaran
SPPmu..” kata-kata ibu tertahan
“aku tidak apa-apa, aku
yakin anakmu ini mampu mengatasinya ibu.. aku akan meminta kompensasi dari
pihak sekolah”
Ibu memandangku cemas,
sejujurnya aku benci dengan pandangan seperti itu, ini dapat nmembuatku menjadi
spot jantung mendadak
Lalu ibu pun keluar
dari kamarku
Selang beberapa menit
ku putuskan untuk mecari udara segar di luar rumah, untu menenangkan pikiranku,
terlihat dari jauh ada tukang sayur di kelilingi oleh ibu-ibu
“ibu widia.. kasihan
sekali berhutang kesana kemari..” ucap salah seorang ibu-ibu
“ah.. aku tidak ingin
meminjamkan uang kepadanya kau tahu sendiri kan, uang bu maya saja sampai
sekarang tidak kembali”
“tetapi bu.. kasihan
juga, pak rohmat hanya bekerja sebagai tukang batu”
“ah tetap saja bu”
Bagaikan sebuah teriris
sembilu, hati ini sangat perih mendengar percakapan ketiga ibu-ibu tadi tentang
ibu. Aku sangat sakit hati dengan mereka, ingin rasanya mengucir satu-persatu
mulut mereka
Bukit di dekat rumah
menjadi salah satu tempat pelarian, karena hanya dari sana cakrawala dapat ku
lihat, membayangkan apa yang akan terjadi pada sang surya di hidupku
berikutnya, bagaimana mungkin ibu dapat mengatasi rasa sakitnya?
Bagaimana mungkin?
Kadang ku berpikir,
Tuhan memang sangat tidak adil, orang sebaik ibu, mendapatkan cobaan yang sangat
besar.
Tetapi aku yakin, ibu
adalah orang yang tegar, ibuku tak pernah sedikitpun mengeluh
Aku tetapi berdiri di
uncak bukit dengan hati berdebar, mungkinkah aku sanggup memandang wajah ibu?
Mungkinkah aku sanggup melihat ibu atas kejadian ini?
Bahkan aku tak memiliki
muka untuk bertemu dengannya
Tetapi aku mendapat
jawaban atas semua itu, aku harus menemui ibu dan meminta maaf atas segala
kesalahanku pada ibu
Dengan langkah gontai,
aku berjalan menyusuri jalan setapak. Perlahan namun pasti ku ayunkan kedua
langkahku dan terlihat ibu dengan wajah cemas memandang ke arahku.
“kau dari mana widia?”
Tanya ibu
“maafkan aku ibu, aku
baru saja mencari udara segar”
“apa karena ibu? Kau
marah?”
“tidak ibu..” jawabku
“maafkan ibu, ibu tidak
bisa memenuhi segala yang kau butuhkan” ibu terisak dalam
“ibu.. ibu tidak perlu
meminta maaf, justru aku, aku lah yang harusnya meminta maaf”
“tapi saying.. kau jadi
menderita karena ibu”
Ku raih jari ibu, ku
genggam erat dalam dekapan tanganku, buliran air mata ibu tampak membasahi
kedua pipinya
“cukup dengan aku
menjadi anak dari seorang wanita yang hebat saja aku sudah sangat bahagia”
Ibu menangis, kemudian
ibu memelukku erat.. sangat erat.. ku rasakan hangat, tubuhnya yang sudah tak
segemuk dulu..
Kulitnya yang tak sekencang
dulu..
Wajahnya yang tak
seceria dulu..
“aku bahagia ibu.. aku
sangat bahagia..” lanjutku
“biar aku yang akan
mengurus pembayaran sekolah bu, aku akan mencari beasiswa, ibu tak perlu
khawatir”
Selama 2 tahun aku
berjuang.. berdampingan dengan ibu dan ayah..
Mereka telah
mendorongku sampai sejauh ini hingga aku sekarang mampu menyandang predikat
yang tak semua orang dapat
Tuhan itu adil. Hanya
Ia memiliki cara yang berbeda untuk menyampaikannya